Massa Memanas di Perbatasan Sultra-Sulteng, Dua Mobil Dihantam Ekskavator Milik PT ASKON
Redaksi FidelisNews
03 Oktober 2026
08:09 WIB
61 views
Daerah
FidelisNews Sulteng - Konut Matarappe || Ketegangan pecah di wilayah perbatasan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Konflik akibat aksi pemalangan jalan hauling milik PT ASKON di Desa Matarape, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kian memanas setelah aksi pemblokiran akses menuju kawasan jetty berujung pada kerusuhan dan pengrusakan sejumlah kendaraan serta alat berat.
Geram akibat dampak debu aktivitas pertambangan nikel, sekira 50 warga Desa Matarape, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, terlibat bentrok hingga sejumlah kendaraan dan alat berat milik perusahaan dibakar, Jumat (2/10/2026) lalu.
Aksi berlangsung di Pos Security Jetty IUP PT Askon/BKR. Warga menuntut penanganan dampak debu serta kompensasi uang debu atau penyiraman jalan untuk mengurangi debu.
Sekira pukul 10.30 Wita, massa memalang jalan hauling menggunakan dua kendaraan roda empat. Setelah melaksanakan salat Jumat, massa kembali ke lokasi sekira pukul 12.30 Wita dan mendapati dua kendaraan yang digunakan untuk memalang jalan telah rusak.
Situasi kemudian memanas hingga terjadi aksi saling pukul. Dua warga, Rinto dan Dowir, dilaporkan terluka. Sementara dari pihak perusahaan, Yusuf mengalami luka memar pada wajah dan kepala.
Sekira pukul 13.30 Wita, massa merusak sejumlah kendaraan dan alat berat milik perusahaan. Tiga unit LV Hilux dilaporkan rusak berat, sementara tiga unit LV Hilux lainnya, satu grader dan satu excavator dibakar.
Sekira pukul 15.27 Wita, massa kemudian bergerak menuju kantor PT Askon/BKR menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini mengatakan kepolisian berupaya mengendalikan situasi secara persuasif namun tetap tegas. Personel Polres Konawe Utara turut dilibatkan dalam pengamanan karena lokasinya menjadi wilayah terdekat dari site PT Askon.
“Kami meminta kepada seluruh masyarakat di Desa Matarape agar senantiasa menahan diri, tidak mudah terpancing oleh provokasi, dan menyerahkan sepenuhnya penanganan persoalan ini kepada pihak berwenang,” ujar AKBP Reza Khomeini.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang dapat merugikan masyarakat luas dan melanggar hukum.
Dua unit mobil dilaporkan hantam ekskavator di lokasi kejadian meny meny menyusul eskalasi kekecewaan warga yang memuncak.
?Aksi pemblokiran ini dipicu oleh keluhan warga Desa Matarape yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Matarape terkait paparan debu tebal dari aktivitas pengangkutan tambang. Warga menilai debu hauling PT ASKON tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga sudah mengancam kesehatan dan mata pencaharian mereka.
?“Kehadiran PT ASKON di Matarape Diduga menjadi malapetaka, pengrusakan lahan milik masyarakat, debu hauling sampai ke pemukiman,” tegas perwakilan Aliansi Masyarakat Matarape, Kamis (1/10/2026).
Warga menyebut debu yang berterbangan dari jalan hauling telah menjadi bahaya laten yang merusak tanaman pertanian dan mencemari udara pemukiman. Mereka menyayangkan sikap pihak manajemen PT ASKON yang dinilai pasif dan tidak memberikan solusi konkret atas persoalan pencemaran lingkungan tersebut.
?Sebagai bentuk peringatan keras dan puncak frustrasi warga, Aliansi Masyarakat Matarape menjadwalkan aksi demonstrasi skala besar pada Jumat (2/10/2026) di sepanjang jalan hauling PT ASKON Desa Matarape. Aksi tersebut dikomandoi langsung oleh Muhlis selaku Koordinator Lapangan (Korlap) dan Rinto sebagai Wakil Koordinator Lapangan (Wakorlap).
?Dalam tuntutannya, massa mendesak agar pihak perusahaan segera menghentikan seluruh aktivitas hauling sampai ada kepastian penanganan dampak debu dan ganti rugi atas kerusakan lahan warga.
Berita Terkait
Pencegahan Kecelakaan Laut, Wabup Selayar Resmi Bu
14 Oktober 2026
Pasir Laut dipakai di Proyek Sekolah Rp.1,817 Mili
28 September 2026
Bupati Polman Mengapresiasi TNI Bangun Puluhan Jem
11 September 2026
